JAWA TENGAH — Toyota resmi menunda produksi Highlander BEV 2027, SUV listrik tiga baris yang semula dijadwalkan meluncur tahun ini. Seorang juru bicara Toyota mengonfirmasi kepada Cars.com bahwa produksi model all-electric ini ditunda karena “penyesuaian tambahan pada kendaraan sebelum peluncuran.” Belum ada tanggal produksi baru yang diumumkan.
Penundaan ini hanya berdampak pada versi listrik. Highlander 2026 dengan mesin bensin dan hybrid tetap diproduksi hingga Desember 2026 dan diperkirakan masih tersedia di diler hingga 2027. Toyota menjual lebih dari 100.000 unit Highlander dan Grand Highlander di AS hingga Juni tahun ini—jauh melampaui penjualan EV mereka yang hanya 22.000 unit di periode yang sama.
Meskipun Toyota beralasan penundaan untuk penyempurnaan teknis, Cars.com menilai langkah ini lebih untuk memaksimalkan keuntungan dari model bensin dan hybrid yang tengah laris. Sementara itu, tiga SUV listrik baru Toyota—bZ4X yang diperbarui, C-HR, dan bZ Woodland—mulai menunjukkan performa penjualan positif. bZ4X bahkan masuk jajaran EV terlaris di AS, mengungguli Chevy Equinox EV.
Saat tiba nanti, Highlander BEV akan tersedia dalam dua varian: XLE dan Limited. Pilihan baterainya 77 kWh atau 95,8 kWh, dengan jarak tempuh maksimal 320 mil (FWD) untuk baterai besar. Varian FWD punya tenaga 221 hp, sementara AWD di varian Limited menghasilkan 338 hp. Layar utama 14 inci dan kluster digital 12,3 inci menjadi andalan fitur infotainment. Harganya diperkirakan mulai dari US$50.000 (sekitar Rp800 juta), lebih murah dari Tesla Model Y L (US$61.990), Kia EV9 (US$54.900), dan Hyundai IONIQ 9 (US$58.955).
Highlander BEV menggunakan platform TNGA-K EV yang dimodifikasi, sama seperti Lexus TZ dan Subaru Getaway. Jika Highlander listrik mundur, besar kemungkinan kedua model tersebut juga mengalami nasib serupa. Toyota belum memberikan pernyataan resmi soal ini.
Di segmen SUV listrik tiga baris, permintaan justru meningkat. Penjualan Kia EV9 naik 42% dari tahun lalu, sementara Hyundai IONIQ 9 melonjak 380% hingga Juni 2025. Dengan penundaan ini, Toyota berisiko kehilangan momentum di segmen yang mulai ramai. Komentar dari pengguna Mrvc di forum menyarankan Toyota juga perlu mengatasi dealer yang enggan menjual EV, sembari berharap penundaan ini dipakai untuk benar-benar memperbaiki produk.