BANJARNEGARA — Harga pakan yang terus meroket dan cuaca pancaroba yang tak menentu menjadi tantangan berat bagi BUMDes Sawal Bersatu di Desa Sawal. Manajemen BUMDes yang baru terbentuk pun harus mencari cara agar usaha peternakan bebek petelur yang baru bergulir ini tidak gulung tikar.
Sekretaris BUMDes Sawal Bersatu, Wahyu Setiyani, mengungkapkan bahwa tekanan ekonomi saat ini sangat terasa. “Januari itu malahan masih bagus-bagusnya, harganya juga bagus. Kalau sekarang, telure murah, pakane mahal, mundak-mundak terus,” keluhnya, Sabtu (11/7/2026).
Alih-alih hanya menjual telur mentah yang harganya anjlok, BUMDes kini mulai mengoptimalkan rencana hilirisasi produk pascapanen. Langkah ini diyakini bisa menjadi bantalan saat harga pasar sedang tidak bersahabat. Pengolahan hasil peternakan diharapkan mampu menyerap produksi telur dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Manajemen juga fokus pada optimalisasi perawatan kandang untuk menekan angka kematian ternak. Sebab, selain faktor harga, populasi bebek yang menyusut akibat kematian wajar turut mempengaruhi jumlah produksi telur harian.
Usaha peternakan ini sejatinya masih sangat muda. Wahyu menceritakan, program ini baru digulirkan pada akhir 2025. Populasi bebek gelombang pertama sebanyak 700 ekor didatangkan pada Sabtu (29/11/2025) lalu.
Meski menghadapi tekanan dari berbagai sisi, pihak BUMDes tetap optimistis. “Kami pada awal program ada 700 ekor bebek yang datang,” ungkap Wahyu. Dengan strategi hilirisasi dan perbaikan manajemen kandang, BUMDes Sawal Bersatu berharap bisa melewati masa sulit ini dan menjaga konsistensi produksi ke depannya.