SUKOHARJO — Serangan hama ulat grayak mengancam pertanaman padi milik Kelompok Tani Cipto Hasil di Desa Pandeyan, Grogol. Untuk mencegah gagal panen, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distankan) Kabupaten Sukoharjo langsung mengerahkan teknologi penyemprotan berbasis drone.
Drone Sprayer Dipilih Demi Efektivitas dan Efisiensi
Kepala Distankan Sukoharjo, Bagas Windaryatno, mengatakan drone sprayer diterbangkan pada Senin malam (6/7) untuk membasmi hama ulat grayak. Metode ini dinilai lebih efektif dibandingkan penyemprotan manual karena mampu menjangkau area terdampak secara merata dalam waktu singkat.
"Dengan drone, penyemprotan lebih cepat dan dosis pestisida bisa lebih terukur. Ini penting agar serangan tidak meluas ke lahan lain," ujar Bagas.
Apa Itu Ulat Grayak dan Seberapa Berbahaya?
Ulat grayak atau Spodoptera frugiperda merupakan hama invasif yang menyerang tanaman padi pada fase vegetatif. Hama ini mampu memakan daun dan batang muda dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Jika tidak segera dikendalikan, populasi ulat grayak bisa menyebabkan gagal panen total pada lahan yang terserang.
Kelompok Tani Cipto Hasil di Desa Pandeyan merupakan salah satu kelompok yang lahannya paling terdampak di wilayah Kecamatan Grogol. Distankan Sukoharjo masih melakukan asesmen untuk mengetahui luas pasti lahan yang terinfestasi.
Langkah Lanjutan Distankan Sukoharjo
Selain penyemprotan dengan drone, Distankan Sukoharjo juga mengimbau petani untuk rutin memantau kondisi tanamannya. Jika ditemukan gejala serangan, petani diminta segera melapor ke petugas penyuluh lapangan (PPL) setempat.
Bagas menambahkan bahwa pihaknya akan mengoptimalkan pengawasan secara berkala. "Kami akan terus memantau perkembangan di lapangan. Jika diperlukan, penyemprotan lanjutan akan segera dilakukan," pungkasnya.