MAGELANG — Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah, Sumarno, menyebut penambahan kuota peserta bertujuan memberi kesempatan lebih luas bagi pelari yang sebelumnya gagal mendapatkan slot. Ia menyampaikan hal itu seusai mewakili Gubernur Ahmad Luthfi dalam peluncuran BJBM 2026 di Balkondes Ngadiharjo Ngabean, Kabupaten Magelang, Rabu (8/7/2026) malam.
Tiga Nomor Lomba dan Target Ekonomi
Panitia menyediakan tiga nomor lomba: 10 kilometer, half marathon (21 kilometer), dan marathon (42 kilometer). Sumarno berharap perputaran uang dari ajang ini bisa menembus Rp100 miliar, meningkat dari capaian tahun lalu yang mencapai Rp67 miliar.
Menurut Sumarno, Borobudur Marathon telah berkembang menjadi lebih dari sekadar perlombaan lari. Ajang ini menjadi bagian dari strategi Pemprov Jawa Tengah untuk mengampanyekan gaya hidup sehat, memperkuat sport tourism, sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.
Warisan Satu Dekade: Gotong Royong Warga
"Kami ingin Borobudur Marathon menjadi gawenya masyarakat Borobudur. Nilai yang paling penting adalah kebersamaan dan gotong royong. Itulah warisan yang harus terus dijaga agar event ini tetap berkelanjutan," kata Sumarno.
Ia mengenang bahwa pada penyelenggaraan perdana 2017, masyarakat belum banyak terlibat. Kini, ribuan warga justru menjadi bagian penting dari kemeriahan dengan memberikan semangat di sepanjang lintasan.
Kolaborasi Bank Jateng dan UMKM Lokal
Direktur Utama Bank Jateng, Bambang Widyatmoko, mengatakan keberhasilan menjaga event ini selama satu dekade merupakan buah kolaborasi seluruh pihak. Menurutnya, BJBM kini menjadi salah satu ajang lari paling bergengsi di Indonesia yang memberikan manfaat bagi sektor pariwisata, perhotelan, kuliner, dan UMKM.
Pada edisi 2026, Bank Jateng kembali menghadirkan Bank Jateng Pawone dengan melibatkan lebih dari 70 UMKM lokal yang telah dikurasi untuk menyajikan kuliner tradisional bagi peserta. Selain itu, program Bank Jateng Young Talent juga dilanjutkan sebagai wadah pembinaan pelari muda berbakat.
Peserta dari 39 Negara dan Medali Khusus
Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Adi Prinantyo, menyebut Borobudur Marathon kini menjadi salah satu event lari yang paling dinanti. Pada penyelenggaraan tahun lalu, peserta datang dari 39 negara, sementara sekitar 10.000 warga ikut memberikan semangat di sepanjang lintasan.
Perayaan satu dekade juga akan menjadi momen istimewa. Penyelenggara menyiapkan medali apresiasi khusus bagi peserta yang telah mengikuti Borobudur Marathon sedikitnya lima kali, termasuk pada edisi 2026. Medali itu menjadi simbol perjalanan sepuluh tahun sekaligus penghargaan bagi pelari yang setia menjadi bagian dari sejarah ajang ini.
Dampak Nyata bagi Masyarakat Sekitar
Ketua Yayasan Borobudur Marathon Liem Chie An mengatakan, sejak awal penyelenggaraan, cita-cita terbesar yang ingin diwujudkan adalah menghadirkan manfaat bagi masyarakat sekitar Borobudur. Dampak yang kini dirasakan warga menjadi bukti bahwa ajang ini telah tumbuh menjadi milik bersama.
Sumarno menambahkan, semakin banyak pelari yang datang bersama keluarga dan menikmati destinasi wisata di kawasan Borobudur, maka manfaat ekonomi tidak hanya dirasakan penyelenggara, tetapi juga pelaku UMKM, hotel, restoran, homestay, hingga masyarakat sekitar. [ADV]