SEMARANG — Kepala Biro BUMD dan BLUD Setda Jawa Tengah Agus Prasetyo mengungkapkan, kebijakan ini sudah berjalan sejak 2020. Empat BUMD utama kini mendapat arahan spesifik: PT Jateng Agro Berdikari fokus pada sektor pangan, PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT) bergerak di infrastruktur dan manufaktur, PT Tirta Utama Jawa Tengah pada penyediaan air baku, serta PT Jateng Petro Energi dikembangkan sebagai holding energi dari hulu ke hilir.
Mengapa Pemprov Jateng Merombak Bisnis BUMD?
Agus menjelaskan, sebelumnya banyak BUMD yang melebarkan usaha ke berbagai sektor tanpa perencanaan matang. Akibatnya, kinerja keuangan dan tata kelola perusahaan menjadi tidak optimal. "Mulai tahun 2020 ke sini kita atur core bisnis masing-masing BUMD. Tidak lagi semua usaha dijalankan, tetapi kita fokuskan sesuai bidangnya," ujar Agus di kantornya, Kamis (9/7/2026).
Kolaborasi Jadi Kunci di Tengah Fiskal Terbatas
Penataan ini bukan sekadar pemangkasan lini usaha. Pemprov Jateng juga mendorong sinergi antar-BUMD, terutama saat kondisi Transfer ke Daerah (TKD) menurun. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menginstruksikan agar BUMD yang likuid menggandeng perusahaan daerah yang masih membutuhkan dukungan modal.
"Era sekarang adalah era kolaborasi. Ketika kondisi fiskal terbatas, BUMD yang likuid harus bisa menggandeng dan membantu yang lain agar tetap berjalan," pungkas Agus.
Target Jangka Panjang: Kesehatan Perusahaan dan Tata Kelola
Selain fokus bisnis, Pemprov Jateng menekankan penguatan manajemen risiko dan kepatuhan. Agus menyebut keberlanjutan bisnis menjadi aspek krusial dalam pengembangan BUMD ke depan. "Yang kami jaga bagaimana BUMD tetap sehat, bisnisnya berjalan positif, tata kelolanya semakin baik, sehingga ketika bisnisnya berkembang kontribusinya juga akan meningkat," tuturnya.
Langkah ini diharapkan meningkatkan kontribusi BUMD terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Jawa Tengah dalam beberapa tahun mendatang, seiring dengan pulihnya fundamental usaha masing-masing perusahaan.