SEMARANG — Pemprov Jawa Tengah tidak ingin dua aset BUMD-nya, PT Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan (PRPP) dan kawasan wisata Jateng Valley, terus terbengkalai. Kepala Biro BUMD dan BLUD Setda Provinsi Jawa Tengah, Agus Prasetyo, mengungkapkan bahwa pihaknya kini tengah gencar mencari investor baru untuk menyuntikkan modal ke dua proyek tersebut.
PRPP: Potensi Besar di Lokasi Strategis, Tapi Terbebani Rugi Kumulatif
Agus menyebut PRPP memiliki potensi besar karena lokasinya berdekatan dengan Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang. Pemprov telah menyiapkan konsep pengembangan kawasan berupa pusat MICE (meeting, incentive, convention, and exhibition), hotel, sport center, serta konektivitas menuju Pantai Marina.
“Kami ingin PRPP tetap bertahan. Tidak ada PHK dan operasional tetap berjalan,” ujarnya saat ditemui di kantornya, belum lama ini.
Namun, kinerja keuangan perusahaan masih tertekan. Selain sengketa lahan yang baru rampung, pandemi Covid-19 dan pencatatan penyusutan aset hasil due diligence pada 2021 memperbesar rugi kumulatif perusahaan. Akibatnya, meski operasional bisa untung, keuntungan itu habis untuk menutup kerugian masa lalu.
Sengketa Lahan 40 Hektare Selesai, Investor Mulai Dilirik
Agus menjelaskan bahwa sengketa lahan seluas 40 hektare menjadi faktor utama investor enggan masuk. Kini, lahan tersebut sudah bersertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) murni atas nama PRPP. “Investor banyak yang wait and see karena lahannya belum selesai. Sekarang sudah HGB murni atas nama PRPP,” jelasnya.
Sebagai langkah awal sebelum investor besar masuk, Pemprov mendorong kolaborasi antar-BUMD melalui penyelenggaraan berbagai kegiatan di kawasan PRPP. Revitalisasi Grand Maerakaca juga diprioritaskan sebagai sumber pendapatan perusahaan sementara waktu.
Jateng Valley Juga Cari Suntikan Dana Baru
Selain PRPP, Pemprov juga terus mengupayakan kelanjutan pembangunan kawasan wisata Jateng Valley di Penggaron. Proyek ini sebelumnya juga sempat terhenti dan kini masuk dalam daftar prioritas penyehatan BUMD.
Pemprov berharap dengan masuknya investor baru, kedua kawasan itu bisa kembali menjadi destinasi unggulan dan penggerak ekonomi daerah. “Sambil kami mencari investor dan memperbaiki kawasan agar kembali menjadi destinasi unggulan Jawa Tengah,” pungkas Agus.